hal ini sudah menjadi pembicaraan media, apa lagi jika bukan berita hangat mengenai kenaikan harga BBM yang nantinya akan diikuti dengan naiknya harga kebutuhan lain, dan juga cerita epik mengenai langkanya BBM di detik-detik menjelang kenaikan harganya. ada hal menarik yang selalu dilakukan bangsa kita menyangkut kebijakan, namun karena kali ini berita panas bergulir masalah BBM, maka mungkin ada baiknya saya ikut berkontribusi lewat tulisan ini.
kita mulai dari berita di televisi. satu sore saya melihat politisi dari partai oposisi diwawancara mengenai tanggapannya seputar masalah BBM. tidak bermaksud sentimen terhadap politisi tersebut, sebab saya pribadi lebih memilih golput di pemilu kemarin. lawan politik presiden menyatakan bahwa partainya secara tegas menolak opsi kenaikan harga BBM. beliau tidak mengatakan alasannya namun beliau lebih menekankan pada ungapan demi kepentingan rakyat. dan inilah wajah Indonesia yang pertama. sangat jelas politisi itu "menunggangi" panasnya isu BBM untuk mencari muka. benar, pencitraan adalah hal penting mendekati pemilu, dan politisi hanya berkoar menentang tapi hanya di mulut. semoga kita sadar.
Hal berikutnya yang akan kita lihat adalah kisah tentang seorang pemuda. saya kurang ingat usia atau namanya namun seingat saya dia seusia saya. Apa yang dilakukannya untuk menolak kenaikan harga BBM? Membakar diri dan bahkan dalam keadaannya yang mengalami luka bakar parah ia masih sempat berorasi dan menyatakan teman-temannya harus melakukan hal serupa. bodoh menurut saya. pertama hal ini melukai diri sendiri. mangalami luka parah dan apa? pemerintah tetap tidak menggubris aksinya. kedua, yang menurut saya lucu dia menggunakan bbm untuk aksi bakar dirinya. pertanyaannya kenapa orang yang masih sanggup untuk mandi bensin protes masalah BBM?
yang tidak kalah panas adalah aksi mahasiswa. saya juga seorang mahasiswa tapi apa yang kita lihat di media mengenai aksi mahasiswa justru membuat saya sedikit malu memiliki status itu. mahasiswa adalah agen perubahan, kaum intelektual, harapan bangsa, dan penggerak pembanggunan. namun, apa yang dilakukan justru tidak mencerminkan hal itu. bagaimana mungkin seorang pionir pembangunan menjarah mobil distributor gas LPG? kasus lain, melakukan pengerusakan dan justru tindakan anarkis dalam demonstrasinya, apakah ini yang disebut sebagai intelek? intelek bagi saya adalah seorang yang mampu memikirkan secara matang penyelesaian masalah, namun yang terjadi tidak ada bedanya dengan ormas-ormas yang melakukan aksi anarkis.
saya punya beberapa fakta penting yang mungkin bisa dijadikan acuan dan dasar berpikir sebelum kita protes dan melakukan aksi anarkis parah. Pertama negara ini adalah negara dengan harga BBM yang relatif sangat rendah dibanding negara lainnya (sokongan subsidi besarlah penyebab harganya rendah). memang benar kita adalah penghasil minyak, namun jangan lupa pula kenyataan bahwa kita belum bisa mengolah minyak, sehingga yang kita jual adalah minyak mentah dan kita harus membeli minyak siap pakai yang artinya harganya ditentukan oleh pengolahnya. kedua, sekalipun negara penghasil, tahukah anda bahwa harga minyak di negara kita juga dipengaruhi harga minyak dunia? jika harga minyak internasional naik, otomatis harga minyak di seluruh negara di dunia ikut naik. Hal berikutnya, kita sama-sama tahu berapa besar subsidi di sektor ini. terlepas dari melebihi APBN atau tidak, subsidi besar di sektor ini justru dinikmati oleh pihak yang sebetulnya tidak memerlukan. Jadi mungkin kita harus merefleksikan lagi dalam hati pertanyaan apakah arif jika kita membiarkan harga BBM naik? jangan lupa bahwa ini adalah salah satu cara kita untuk tidak mengambil hak orang.
mungkin akan lebih bijak jika sekarang kita memulai berbenah daripada berorasi dan menciptakan anarki. di kampus muncul selebaran tentang menggalang masa untuk menduduki gedung agung di awal bulan besok. anjuran semacam ini baik, namun apakah hal ini penting untuk dilakukan? pertanyaannya, apakah kita ingin kejadian 1998 terulang lagi? apakah esensi dari reformasi adalah demo besar-besaran dan menduduki pusat pemerintahan lagi? bahwa kenyataannya harga BBM mahal, sekalipun ditekan suatu saat pasti akan naik sebab BBM berasal dari sumber daya yang terbatas. jadi kenapa kita tidak mencoba untuk menemukan dan kemudian menggunakan bahan bakar alternatif? Bila jawabnya sulit maka gunakan langkah kedua, gunakan transportasi umum. Mungkin banyak yang bilang transportasi umum tidak nyaman, tapi saya pikir jika penggunanya banyak pemerintah pasti akan sadar dan mulai memperbaiki strukturnya.
bila keduanya tidak dapat anda lakukan, maka sayangnya anda tidak merubah keadaan. anda tidak bisa menyumbangkan hal positif. pikirkan lagi, kenapa kita lebih memilih memperkeruh suasana dengan berorasi dan melakukan anarki? berhentilah merengek, alasan kenapa kita bangsa besar namun sulit untuk maju karena kita terlalu banyak merengek untuk banyak hal dan kebijakan. jika kita belum bisa membawa perubahan lewat perbuatan nyata (bukan demo), kenapa kita mencari kesalahan orang lain? mungkin kadang kita harus tahu bagaimana rasanya jadi orang pemerintahan yang disodorkan dua pilihan yang sama-sama mematikan. pikirkan jika kita dalam posisi itu apakah kita bisa berbuat lebih baik?
sekedar tambahan, bila awalnya 1,1 liter seharga 5 ribu, maka jika 1 liter naik jadi 6,5 ribu dengan uang 5 ribu kita masih mendapat sekitar 0,6 liter. Bukankah penurunan jumlah liternya tidak terlalu signifikan? Lagipula kita tetap bisa membeli bensin dengan harga 5 ribu di SPBU manapun. jadi kenapa harus risau? teman saya pernah bilang "saya lebih suka jalan kaki/naik sepeda karena sehat, hemat bbm, dan ramah lingkungan." yah, mungkin kita juga bisa belajar menggunakan transportasi itu ya?
Apapun tindakan anarkis yang anda lakukan untuk mencegahnya, BBM akan tetap naik dan mau tidak mau anda akan tetap harus menyesuaikan diri. satu-satunya jalan adalah memikirkan hal yang lebih adaptif untuk dilakukan daripada memikirkan bagaimana menurunkan pemerintah. memangnya jika pemerintah saat ini diturunkan ada jaminan pemerintah berikutnya jadi lebih baik? yah, akhirnya semua kembali kepada bagaimana kita menyikapinya. selamat merenung.
