Kamis, 11 Maret 2010

Bila Dunia Tanpa Agama


menjadi atheis adalah pilihan terbaik bagi kita. gimana enggak, agama modern sekarang ga ubahnya media untuk mengkotak-kotakkan kita. semacam pemberian "kasta" baru dan lebih ekstrim lagi pendapat bahwa agama hanya menjadi alasan perang dan permusuhan. tapi apakah benar begitu? apakah dunia tanpa agama akan jadi lebik baik? apakah dunia tanpa konsep dosa dan amal akan jadi lebih indah? apakah bila kita tidak pernah tahu ada tempat seperti surga dan neraka semua akan baik-baik saja?

banyak pandangan yang saya dapat. mulai pandangan bahwa Tuhan itu tidak pernah ada, sebab manusia dipengaruhi masa lalu dan alam bawah sadarnya, hingga konsep dosa adalah sebuah mind set yang sengaja dibuat untuk membatasi perilaku buruk manusia. tapi apa benar demikian?

kita mulai dari kata agama. diambil dari bahasa sanskerta yang berarti tidak ada kekacauan. maka seharusnya kita dapat manarik kesimpulan bahwa alasan kenapa agama ada di dunia ini adalah untuk menghilangkan kekacauan. lantas mengapa agama malah menimbulkan "kekacauan" baru? dan kenapa banyak orang yang hidup tanpa agama terlihat lebih baik?

menurut saya agama memang harus ada di dunia, namun saya memandang penganut agama sudah mengalihkan fungsi agama. agama sekarang ini lebih menjadi sarana pembuktian yang menurut saya terkadang tidak terlalu penting untuk melakukannya. alasan kenapa agama menimbulkan konflik, sebab penganut agama lupa akan perannan agama sebagai pemberi pedoman. agama sekarang berubah menjadi wadah komersil dimana ketika agamaku terlihat lebih baik dari agamamu ada kepuasan tersendiri dalam hati pemeluknya. pemeluk agama lupa akan dasar tiap agama universalitas yang seharusnya ditunjukkan lewat kasih. kekacauan baru timbul karena kesombongan tiap agama modern.

"jadikanlah seluruh bangsa murid-Ku" apakah ayat ini membuat kita terfokus untuk menjadikan semua orang sepaham dengan kita? saya rasa kita tidak boleh lupa dua hal. pertama tiap orang memiliki kehendak bebas, maka bukan hak kita untuk memaksa. kedua, terapkan hukum kasih, jika apa yang kita perbuat baik dan didasari motivasi yang benar, saya rasa banyak orang akan sepaham dengan kita pada akhirnya nanti.

sekarang beralih ke atheis, apakah jadi atheis lebih baik? saya rasa tidak. tidak percaya pada Tuhan, berarti tidak yakin akan iman dan pengharapan. mungkin akan terasa lebih baik menjadi atheis, namin apakah akan menjadi nyama ketika dunia ini dipenuhi orang yang tidak percaya pada Tuhan? lantas bagaimana mereka menjelaskan tentang terjadinya dunia? apakah semua terjadi begitu saja? apakah mereka percaya akan masa depan yang dipenuhi pengharapan? kepada siapa mereka akan berpegang ketika terjatuh? mereka mempertanyakan Tuhan, namun apakah mereka tahu semakin mereka mencari kebenaran bahwa Dia tak ada, semakin mereka menemukan bukti baru bahwa Dia ada dan selalu ada.

lantas apa yang harus saya pilih? memilih beragama atau tidak beragama punya konsekuensi masing-masing. ketika kita memilih beragama tanpa memiliki stendar hidup "mangasihi" saya rasa tak ada bedanya kita dengan seorang yang berkata terpujilah Tuhan dengan mulutnya namun menyatakan saya tak yakin Ia mendengar dengan hatinya. demikian pula ketika menentukan menjadi atheis, mungkin terlihat lebih baik, namun apakah demikian adanya?

saya sendiri mengakui, agama bukanlah hal utama yang menentukan kita akan masuk surga atau tidak, bukan mereka yang berteriak "Tuhan.. Tuhan" dengan mulutnya, namun mereka yang melakukan kehendak Bapa-lah yang akan masuk kerajaan surga. salah satu ayat kitab suci agama saya menuliskan hal yang kurang lebih begitu. bukan dengan beragama lalu otomatis kita masuk surga, bukan dengan beragama lantas otomatis kita terbebas dari kesengsaraan, tapi kita harus punya usaha untuk menjadi lebih baik dan mencoba menelaah apa yang Tuhan mau dalam hidup.

saya pribadi memandang kita hidup di dunia ini seperti seorang yang tersesat di hutan belantara. untuk mencapai kota terdekat (baca keselamatan abadi) kita membutuhkan peta, dan agama adalah peta itu. agama hanya bertugas memberikan arah pada kita hingga akhirnya mencapai kota, namun keberhasilan kita tergantung pada diri kita sendiri. bagaimana kita melangkah dan kemauan kita untuk melangkah.

inti dari obrolan kita kali ini, ada atau tidaknya sebuah agama tidak pernah menentukan keadaan suatu tempat. kitalah yang menentukannya sendiri. akhirnya kita harus merenungkan lebih jauh, apakah dunia tanpa agama lebih indah? Tuhan memberkati.

Minggu, 07 Maret 2010

tak banyak waktu


pernah kamu hitung tiap jam yang kamu lewatin? pernah kamu renungin apa yang udah kamu lakuin selama itu? pernah kamu mikirin waktu yang kamu punya terus berkurang? pernah kamu bayangin seandainya malam ini adalah malam terakhir? apa yang udah kamu siapin buat hidup ke depan nanti?

hari ini ada satu pelajaran yang sangat berharga saya dapat. bukan dari mereka yang masih hidup, tapi dari seseorang yang telah pulang ke rumah Bapa. ya, dia mengingatkan saya betapa waktu kita ga banyak dan ga pernah banyak. celakanya kita hanya membuang waktu seakan besok selalu ada matahari yang bersinar.

penyakit menggerogoti tubuhnya dan dia harus dipanggil Bapa lebih cepat dari teman-teman sebayanya. mungkin bagi kalian itu wajar, tapi saya rasa pengalamannya memberi arti begitu besar bagi saya. bukan ketika ia meninggal yang spesial, tapi dampak setelah ia meninggal. yang saya pelajari adalah bagaimana teman-temannya memberi apresiasi begitu besar baginya. mengenang tiap hal baik darinya dan bagaimana sosoknya mampu mengubah banyak pribadi.

pertanyaan bagi kita, waktu kita sama sedikitnya dengan dia. tak ada yang tahu kapan giliran kita dipanggil, apakah nanti setelah menulis di blog saya, saya meninggal? tidak ada yang tahu kecuali Dia. namun lebih dari itu, apa yang telah kita lakukan selama Ia masih memberi pada kita waktu di dunia ini? bagaimana dengan mereka yang ada di dekat kita? apakah mereka mendapat pengalaman manis? dan bagaimana dengan "bekal" kita? apa itu sudah cukup?

kematian adalah hal yang wajar, tapi bukan itu point yang mau saya bagikan. bagaimana kita menghargai waktu yang ada dengan mengisi tiap hari yang kita punya dengan hal baik bagi kita, orang disekeliling kita dan bagi Dia, itu yang penting. bagaimana kita menghargai tiap detiknya hingga satu saat ketika waktu kita habis, mereka yang mengenal kita berkata "aku bangga pernah mengenalnya".

waktu kita terus berlari mengejar kita dan percayalah siap atau tidak waktu akan habis, bagi saya, kamu, dia, mereka, siapapun. tak ada yang mampu ubah itu. yang dapat kita usahakan adalah bagaimana di waktu yang tak banyak ini kita memberikan sedikit hal yang berarti.

dan satu pesan saya sebelum menutup tulisan singkat yang mungkin tak bermakna ini, tak ada banyak waktu.

(tulisan ini didedikasikan untuk seseorang di sebuah jejaring sosial yang di panggil Bapa pada 10 februari 2010. saya mungkin tidak mengenal anda, namun anda mengajarkan saya banyak hal.)