Selasa, 05 April 2011

Tuhan, dimanapun Kau berada


seorang pemuda bertanya pada gurunya yang ia pandang bijak, "guru, alam semesta ini sangat luas, indah, dan luar biasa. siapakah gerangan yang membentuk dan mengaturnya?" sang guru terdiam, ia tarik nafas panjang. ia pejamkan matanya dan mencoba merasakan keadaan alam saat itu.

sang guru tersenyum tanpa menjawab apapun, hingga akhirnya ia mengembalikan pertanyaan pada muridnya, katanya, "bagaimana menurutmu, adakah sesuatu dibalik semua ini?" muridnya diam dan mengerutkan dahinya. iya dipusingkan dengan pertannyaannya sendiri, hingga ia menjawab dengan keraguan "Tuhan kah?" katanya.

"mungkin seperti apa yang kau katakan." kata sang guru diiringi dengan senyum. sang murid kemudian memikirkan kembali jawabannya dan bertanya dalam hatinya "tapi guru bagaimana mungkin itu Tuhan? Tuhan adalah konsep karangan manusia dan jika kita tidak memikirkan konsep tuhan tidak akan ada Tuhan."

gurunya menjawab sambil melangkah meninggalkan tempat itu "anakku, bayangkan ketika kau tidak menganggap Tuhan itu ada, maka kau akan menggunakan konsep lain untuk menggambarkan Tuhan atau paling tidak kebesaran kuasa-Nya."

"lantas apakah guru percaya adanya Tuhan?" tanya murid itu memaksa. "dalam bayanganku ada kuasa yang lebih besar yang mengatur, mendidik, dan mengayomi alam ini, bagaimana kau menyimpulkan itu?" jawab sang guru masih dalam senyuman.

"buktikan bahwa Tuhan itu ada, apakah kau pernah melihat-Nya?" tanya sang murid sembari menghalangi jalan gurunya.

sang guru berhenti dan dan mencari tempat untuk duduk. ia mencoba menenangkan hatinya dan mulai menjawab "anakku, tahukah kau betapa luasnya alam semesta ini?" sang murid menjawab "ya guru, aku tahu itu" jawabnya.

sang guru melanjutkan, "kau juga pasti tahu ada ratusan bahkan ribuan galaksi dalam alam semesta." sang murid menjawab dengan menggebu-gebu "ya, aku tahu itu guru. lantas apa maksud guru?" sang guru bertanya dengan nada pelan "pernahkah kau melihat bagaimana bentuk dari salah satu galaksi itu secara langsung? bagaimana bentuknya?" sang murid menjawab "aku.. aku.. aku tidak tahu guru. aku belum pernah melihatnya langsung dan belum bisa menggambarkannya bagimu."

"lantas kau percaya pada ribuan galaksi itu?" tanya sang guru. "y.. ya guru" jawab sang murid. "begitu pula Jawabku ketika kau menanyakan apakah Ia ada dan bagaimana Ia."

"apakah itu artinya guru tak dapat membuktikan keberadaan Tuhan?" tanya muridnya sekali lagi. "mungkin demikian." jawab gurunya. "lantas maafkan aku jika tidak percaya dengan apa yang kau sebut dengan Tuhan, guru."

"aku tidak pernah menyalahkan dirimu atas jawaban atau pergumulanmu, sebab suatu hari kau akan mengartikan Tuhan dengan caramu, dan akan menyebut nama-Nya dengan ungkapanmu, dan menurutku itu bukan suatu dosa atau kehinaan." jawab gurunya.

"guru, bagaimana jika hal itu tidak terjadi?" tanya sang murid. "ketahuilah ini, tidak akan ada orang yang cukup bijak untuk menggambarkan Tuhan, karena bagaimanapun, sebuah ember kayu tidak akan dapat menampung isi lautan. ketika kau tidak mengerti apa itu Tuhan, tidak perlu kau gunakan logika untuk menggambarkan dirinya. cukuplah kau merasakan hadirnya dalam setiap jalan hidupmu."

sang guru mengakhiri pembicaraan itu dengan sebuah kalimat "hiduplah menurut caramu, dan satu hari kau sadar mengapa Ia membuatmu mempertanyakan-Nya."

ketika hari ini kau mempertanyakan Tuhan, itu bukanlah suatu kesalahan terlebih lagi dosa. itu adalah awal dari pertemuanmu dengan-Nya entah kau sadari atau tidak. bagaimanapun dan dengan cara apapun suatu hari nanti kau akan menyebut-Nya.

ketika detik ini kau meragukan keberadaan-Nya dan menyangkal-Nya, ketahuilah bahwa pada saat-saat itu kau sedang memikirkannya. suatu hari kau akan dapat menggambarkannya. ketika kau berhasil, akan jadi pengalaman besar untukku ketika kau mengagambarkan bagaimana Ia ada di hidupmu.

Tuhan, dimanapun Kau berada.. aku bukanlah orang bijak yang dapat mengerti Engaku, aku hanya orang bodoh yang coba mencari tahu Engkau
Tuhan, dimanapun Kau berada.. ajarku untuk mengerti engkau lewat caraku, bukan menyangkali engkau dengan caraku..
Tuhan, dimanapun Kau berada.. buatlah aku merasakan hadir-Mu, bukan mempertanyakan ada-Mu..
Tuhan, dimanapun Kau berada.. dengar seruanku..

Jumat, 01 April 2011

tembok itu bernama agama

saat saya jalan menuju salah satu rumah makan, saya membaca tulisan "saya, kamu, dan dia bersaudara." saya merasa kalimat itu luar biasa. itu sebelum akhirnya saya membaca kata-kata diatasnya yang merujuk pada komunitas agama tertentu.

dari apa yang saya baca, saya mendapat gagasan bahwa pada akhirnya persaudaraan, persahabatan, rasa kasih dan sayang terbatas oleh suatu tembok besar. tembok itu bukan tembok yang secara nyata kita bisa lihat, namun sekalipun tak terlihat, dayanya untuk membatasi ruang lingkup tidak kalah hebat.

muncul pertanyaan dalam benak saya. jadi tembok ini yang membuat kita mudah terprovokasi dan terintimidasi? jadi tembok ini yang membuat saya dengan mudah menghakimi orang lain? jadi tembok ini yang membatasi persaudaraan saya dengan orang lain? hal ini menjadi pergumulan saya beberapa waktu ke belakang. hal ini pula yang membuat saya akhirnya memiliki sudut pandang saya soal agama.

saya membaca kembali salah satu perumpamaan Yesus dan mencoba menterjemahkan pengertian menurut saya. perumpamaan yang saya maksud adalah tentang orang samaria yang menolong orang yang dirampok sekalipun tidak ia kenal sama sekali, dan doa orang farisi dibandingkan dengan doa pemungut cukai.

pada perumpamaan pertama, Yesus menggunakan orang samaria sebagai model yang baik dan orang-orang "beriman" sebagai model buruk. dari situ ada dua hal yang saya dapatkan. pertama-tama bukan karena saya mendalami agama tertentu maka saya menjadi beriman pada Tuhan. berikutnya, bukan karena saya berbeda dengan orang lain, maka saya menjadi berhak untuk menghakimi dan menolaknya.

hal pertama, saya beragama, saya rajin beribadah dan berdoa, , maka saya beriman pada-Nya. menurut saya kita harus melihat satu hal lain yang tidak kalah pentingnya. bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. dalam berbuat (dalam hal ini berbuat baik) tidak harus memandang siapa saya, siapa dia, apa agama saya dan apa agama dia. berbuatah tulus.

kedua (maaf agak fulgar), mengapa sekarang ini banyak terjadi perang antar agama? saya memandang hal ini disebabkan adanya egosentris agama. terkadang agama tidak menjadi alat untuk memberi kerangka hidup bagi seseorang dalam bertindak, tapi lebih sebagai alat mendoktrin orang lain dan alat mengintimidasi orang. maka apakah bedanya saya dengan orang yang tidak beragama apabila saya masih suka menghakimi, menindak, mencaci orang lain? bahkan terkadang mereka yang mengaku tidak beragama melakukan hal yang lebih manusiawi daripada orang yang beragama. lantas, masih pantaskah kita mengatakan surga sudah ku miliki?

berikutnya mengenai doa orang farisi dan doa pemungut cukai. dalam kisah ini, orang farisi dalam doanya membandingkan dirinya dengan pemungut cukai (saat itu ia menjelek-jelekkan pemungut cukai). sementara dilain pihak, pemungut cukai mengaku salah akan dosa-dosanya, lantas menurut anda siapakah yang doanya lebih didengar?

begitupula kita, sekarang cobalah merenungkan diri, berapa kali kita mencibir agama lain dan menganggap diri kita dan jalan yang kita pilih adalah yang terbaik? berapa kali juga dalam hidup kita gunakan topeng dalam menghadapi orang lain? pernahkah sekali saja kita menyadari bahwa hal-hal kecil inilah yang nantinya memperkuat kesenjangan dan batas antar individu?

ya, pada akhir perenungan saya, saya menemukan bahwa Yesus tidak pernah menciptakan agama. bahwa cara hidup-Nya adalah cara yang universal. bahwa baginya yang terpenting tidak sekedar beribadah, namun juga berbuat bagi sesama. bahwa contoh-contoh yang ia berikan mempunyai satu tema khusus "bukan golongan tertentu yang menyenyelamatkanmu", tapi bagaimana kau menjalani hidupmu.

bagaimana saya mengakhiri batas hidup saya? apakah harus dengan saya tidak beragama? bukan itu inti dari semuanya. esensi sebuah agama adalah sebagai cara pandang. maka jangan pernah gunakan agama ataupun kepercayaanmu sebagai alat untuk menyerang atau membatasi diri dari duniamu.

saya sendiri memandang kekristenan sebagai gaya hidup, bukan agama. jadi ke gereja tiap minggu memang penting, berdoa dan baca kitab suci adalah baik, namun itu bukan esensi kekristenan. kristen sejati adalah ketika saya mau berbuat untuk orang banyak. mau merubah sesuatu yang belum baik menjadi lebih baik.

menurut saya dunia ini menjadi tempat yang lebih baik apabila saya, anda, dia, mereka, kita semua memandang bukan dari perbedaan kita, tapi lebih kepada perbedaan hanya ada pada cara kita melakukan sesuatu, namun tujuan kita tetap satu.

runtuhkan tembok itu.